Sekilas Info:
Minggu, 02 Okt 2022
  • Sukseskan Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Tenggara ke-V Juni 2022

Kiprah NU Menuju Satu Abad: Garda Terdepan dalam Merawat Kebhinekaan

Diterbitkan :

Perjalanan karir Nahdlatul Ulama (NU) yang sedang menapaki satu abad (1926-2026) menandai eksistensi dan konsistensinya sebagai organisasi masyarakat Islam (Ormas) dalam mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini menjadi bukti bahwa peran NU di tengah masyarakat Indonesia menempati posisi krusial dalam rangka mengawal kedaulatan NKRI dari segala bentuk rongrongan indoktrinasi dan dogma atas ideologi-ideologi yang berbasis transnasional, baik yang beraliran kanan (liberalisme) maupun kiri (radikalisme). Kedua ideologi tersebut sama-sama memiliki potensi yang dapat mengancam stabilitas ideologi bangsa yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Oleh karena itu, NU melalui wacana moderasi beragama, senantiasa bertekad kuat untuk berada di barisan garda terdepan dalam mempertahankan ideologi bangsa tersebut.

Satu abad sejarah perjalanan NU dalam menapaki peran dan tanggung jawabnya itu bukanlah tanpa halangan dan rintangan. Ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi internal dan sisi eksternal organisasi. Dari sisi internal, NU pernah hampir mengalami perpecahan dengan munculnya oknum-oknum yang berusaha untuk menciptakan sekat-sekat pemetaan ideologi. Meskipun rintangan internal itu berat dihadapi oleh warga Nahdliyin, namun pada akhirnya rintangan itu pun mereka hadapi dengan menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan ukhuwah Islamiyah, insaniyah, dan waṭaniyah. Di sisi lain, NU juga kerap kali diterpa isu sebagai organisasi “sarang liberalisme” dan organisasi yang cenderung bersifat politis oleh oknum-oknum yang tidak menginginkan eksistensi NU dalam tubuh NKRI. Akan tetapi, isu itupun dengan sendirinya terbantahkan melalui dukungan para kader militan Nahdliyin melalui berbagai program penguatan wacana moderasi beragama yang bekerjasama dengan pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI. Oleh karena itu, NU tetap senantiasa eksis dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu (sesepuh pendiri dan pejuang bangsa), utamanya di tengah arus globalisasi yang semakin cepat.

Pengaruh globalisasi yang menjelma dalam ragam ideologi, seperti kolonialisme, imperialisme, komunisme, fundamentalisme, revivalisme, radikalisme, dan liberalisme telah terbukti tidak mampu menggoyahkan semangat NU untuk tetap mempertahankan kedaulatan NKRI. Keteguhan itu berdasarkan pada prinsip ajaran Islam yang raḥmatan lil ‘ālamīn. Ini sesuai dengan amanah yang diwariskan oleh para pendahulu mereka dalam mempertahankan persatuah, kesantuan, dan kedaulatan NKRI. Itu juga terealisasi melalui peran warga Nahdliyin yang terus berupaya mengoptimalkan pengabdian mereka kepada masyarakat, baik dalam bentuk pengembangan pendidikan, ekonomi, budaya, dan kesehatan. Peran Nahdliyin itu secara kongkret dapat dilihat dalam gerakan pemberdayaan Lembaga dan Badan Otonom (Banom) dalam mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman kehidupan masyarakat NKRI.

Peran NU tidak hanya berskala nasional maupun internasional, melainkan juga berperan penting dalam sakala regional maupun lokal. Itu dibuktikan melalui eksistensi NU di Sulawesi Tenggara yang juga menunjukkan perannya secara strategis dalam menjaga keutuhan NKRI melalui wacana moderasi beragama. Ragam kegiatan dan kerjasama dengan instansi pemerintah, swasta, institusi pendidikan, dan lembaga Ormas lainnya terus terjalin dengan baik hingga saat ini. Wujud kerjasama itu dapat dilihat dari hasil penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara PW-NU Sultra dengan Kapolda Sultra terkait usaha bersama dalam menangkal tumbuh dan berkembangnya ideologi radikalisme, terorisme, dan intoleransi di tengah masyarakat Sultra. Selain itu, kerjasama dengan Universitas Haluoleo dan IAIN Kendari dalam menerbitkan buku “Menjaga Harmoni” juga sukses terlaksana. Koordinasi antara Lembaga Amil Zakat NU (Lazisnu) Wilayah dengan PCNU Konawe Selatan dalam kegiatan Koin NU juga terealisasi dengan baik. Kesemuanya itu bentuk kongkret kesetiaan dan kepedulian NU terhadap Islam dan NKRI.

Sehubungan dengan hal itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara (Sultra) bertekad untuk terus melanjutkan peran dan fungsinya yang telah dimulai oleh para pendahulu. Mengingat masa jabatan kepengurusan PWNU Sultra periode 2017-2022 segera berakhir, maka keberlanjutannya melalui kegiatan Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-V sebagai momentum pemilihan Ketua Rais Syurya dan Ketua Tanfiziyah PWNU Sultra untuk masa khidmat 2022-2027 penting terlaksana. Ini diatur dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD-ART) NU di bagian Bab XIV, Pasal 41 tentang pemilihan dan penetapan pengurus wilayah Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini rencananya mengusung tema “MENUJU SATU ABAD NU: MEMBANGUN AKSELERASI MODERASI DALAM MEMPERKUAT TOLERANSI DI SULAWESI TENGGARA” dengan motto “Mandiri dalam Ekonomi, Bersatu dalam Keberagaman”. Tema dan motto tersebut diharapkan dapat menjadi spirit dan motivasi tersendiri bagi warga Nahdliyin, khususnya di Sulawesi Tenggara agar tetap konsisten mempertahankan persatuan dan kesatuan, solidaritas ukhuwah Islamiyah, insaniyah, dan waṭaniyyah, serta mengesampingkan kepentingan pribadi di atas kepengingan organisasi, agama, dan NKRI.

Author by Abdmin: AM. Amir

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

admin

Tulisan Lainnya