Sekilas Info:
Minggu, 02 Okt 2022
  • Sukseskan Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Tenggara ke-V Juni 2022

JELANG KONFERWIL KE-5, PWNU SULTRA HADIRKAN PEMBICARA NASIONAL

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Kendari, PWNU Sulawesi Tenggara

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara menggelar Seminar Nasional bertajuk “NU & PENGARUSUTAMAAN MODERASI BERAGAMA BERBASIS MADRASAH DAN PONDOK PESANTREN.” Seminar ini diseleggarakan pada hari Rabu, 30 Maret 2022 secara daring melalu Zoom Meeting dan live streaming You Tube PWNU SULTRA.

Ketua panitia berharap seminar ini dan kegiatan-kegiatan lainnya dapat mendekatkan dengan masyarakat tentang peran NU di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan seminar yang dimulai pukul 08.30 dimoderatori oleh Dr. H. Abdul Muiz Amir, M.Th.I (ketua LazisNU Sulawesi Tenggara).

Acara seminar nasional didahului sambutan oleh Katib PWNU (Kakanwil Sultra) H. Zainal Mustamin, S.Ag., MA dan ketua Tanfidziyah Drs. KH. Muslim, M.Si. Turut  hadir sejumlah tokoh dan pimpinan Pondok Pesantren se-Sulawesi Tenggara, Kepala Madrasah (MI, MTs, dan MA) se-Sulawesi Tenggara, serta jajaran PWNU Sulawesi Tenggara.

Dalam sambutannya Kakanwil Kemenag Sulawesi Tenggara H. Zainal Mustamin mengatakan “penting agar menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat, ekosistem pendidikan melalui madrasah dan pondok pesantren.” Hal ini perlu untuk terus dilakukan mengingat ada sejumlah oknum yang menolak moderasi beragama.  Pasalnya, moderasi beragama seringkali direduksi maknanya oleh segelintir orang yang terkontaminasi oleh pemahaman “transnasional”.

Olehnya itu, Kakanwil  memberikan apresiasi kepada panitia  yang berusaha  mengadakan kegiatan ini, karena secara  langsung PWNU Sultra telah  membantu pekerjaaan Kemenag Sultra untuk “membumikan” sikap moderasi beragama di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah NU Sultra KH. Muslim mengucakan terima kasih kepada narasumber yang telah bersedia memberikan materi yang sangat penting. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini harus terus ditingkatkan secara massif di tengah masyarakat agar moderasi beragama tersebut dapat lebih cepat terjangkau agar moderasi beragama dapat dipahami masyarakat hingga di pesolok daerah Sultra.

Waryono Abdul Ghafur mengatakan “rumusan moderasi beragama merupakan Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama –yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum–berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa”

Beliau menambahkan, NU memiliki tiga peran penting dalam moderasi beragama. 1) sikap dasar kebangsaan NU, yakni keseimbangan antara ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah. 2)  NU tampil sebagai organisasi garda terdepan yang mengusung politik kebangsaan, semangat keragaman dan pluralitas di Indonesia. 3) Kehadiran NU sebagai cahaya penerang dari maraknya perbedaan, sukuisme, primordialisme, dan fanatisme berlebihan.

Tiga hal yang direkomendasikan oleh narasumber; 1) Internalisasi konsep moderasi beragama; 2) Sosialisasi moderasi beragama; dan 3) Aktivasi organisasi masyarakat

Acara seminar ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber oleh Ketua Panitia Konferwil ke-5 (Dr. Abbas Tekeng, M.A).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar